Samsu Amanah: Jangan Ada Penimbunan Migor

0

BENGKULU, dclick.id – Sudah beberapa hari ini, minyak goreng (Migor) program satu harga dari pemerintah pusat sudah tak bisa dibeli lagi di pasar tradisional. Hal ini dikarenakan stoknya sudah tidak ada lagi. Bahkan saat ini pedagang pasar tradisonal hanya menjual minyak goreng dengan harga lama yakni Rp 38 ribu/2 liter. Harga itu sangat jauh dari harga minya goreng subsidi yang hanya Rp 14 ribu/liter.

Terkait hal tersebut, Waka I DPRD Provinsi Bengkulu Samsu Amanah memastikan agar tidak ada pihak-pihak yang memanfaatkan situasi ini untuk melakukan penimbunan barang.

“Jangan sampai ada supplier dan distributor yang melakukan penimbunan. Ini penting, jangan berani coba-coba ada supplier dan distributor yang melakukan penimbunan dalam situasi sulit seperti ini,” tegas Samsu, Selasa (22/2).

Dijelaskannya, untuk meminimalisir hal tersebut harusnya pemerintah provinsi bersinergi dengan kabupaten dan kota melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian Provinsi Bengkulu dapat melakukan pengecekan berkala.

Baik untuk stok dan harga sembako maupun untuk harga minyak goreng dan kedelai yang saat ini tengah dikeluhkan masyarakat akan tingginya harga dua komunitas tersebut.

“Hendaknya juga Pemprov bersurat menyampaikan ke Kementerian Perindustrian dan Perdagangan terkait kebutuhan kuota daerah. Kalau posisi sekarang secara nasional. Memang kondisi di lapangan terbatas,” papar Samsu.

Persoalan minyak goreng ini, juga mendapatkan sorotan dari anggota DPRD Provinsi Bengkulu Sujono. Ia mendorong agar Pemda baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota melakukan operasi Pasar.

Sehingga dapat menekankan kenaikan harga dua komuditas ini. Apalagi untuk minyak goreng, yang sejak akhir 2021 lalu memang persoalan nasional.

“Sebaiknya bisa melakukan operasi pasar menyikapi kenaikan harga ini kan,” kata Sujono.

Dengan adanya operasi pasar tersebut setidaknya dapat membantu meringankan beban masyarakat. Apalagi, sekarang selain tentang kenaikan minyak goreng. Juga masyarakat di sulitkan dengan jarang ditemukan minyak goreng itu di pasaran.

“Kenaikan harga untuk minyak goreng kan memang tinggi. Bahkan nasional juga sama, ini disebabkan harga CPO bahan baku juga naik sejek akhir 2022 lalu,” imbuhnya.

Ia juga menyayangkan lambatnya respon dari Pemprov melalui Disperindag. Ia meminta agar Pemda bergerak cepat untuk minyak goreng saat ini.

Apalagi, di sejumlah daerah diinformasikan ada pihak-pihak yang mulai melakukan penimbunan untuk komoditas tersebut. Sehingga, akan lebih bijak jika diambil langkah cepat untuk strategis dalam menjaga stabilitas harga dan jumlah barang. (adv)

Penulis : Rifki

Editor : Melinda

Leave A Reply

Your email address will not be published.