Kajati Bengkulu Diminta Usut Kembali Dugaan Kurupsi di Lahan Pemakaman Merah Putih Kota Bengkulu

0

Bengkulu, dclick.id – Direktur Lembaga Peduli Hukum Bengkulu (LPBB) saudara Achmad Tarmizi Gumay, SH, MH telah melaporkan ke Kejaksaan Tinggi Bengkulu atas dugaan terjadinya kerugian negara dan penyalahgunaan wewenang pada lahan pemakaman merah putih Kota Bengkulu.

Adapun lahan tersebut dahulunya dikenal sebgai tempat atau stand pameran taman anggrek dengan luas kurang lebih 8 hektar yang sekarang dikenal dengan lokasi pemakaman merah putih.

Dalam laporannya, Tarmizi menyampaikan bahwa pada tahun 1988-1995 lahan tersebut yelah dibebaskan oleh pemerintah kota (Pemkot) Bengkulu untuk kepentingan stand pameran taman anggrek.

Namun, pada kenyataannya lahan yang dibebaskan tersebut yang seharusnya digunakan untuk kepentingan pemerintah kota dengan uang negara tetapi tidak digunakan untuk kepentingan Pemkot, malah dibagikan kepada para oknum pejabat saat itu dalam hal ini negara mengeluarkan uang namun aset tidak dimiliki.

“Kita patut mendiga adanya suap pada saat itu. Persoalan ini sudah pernah dusut oleh Kajati Bengkulu sekitar bulan oktober 2021 namun dihentikan karena kurangnya bukti. Sehingga kita sekarang meminta dilakukan pengusutan dan penyelidikan kembali kasus ini,” ujar Tarmizi, Sabtu (14/1).

Dialnjutkan Tarmizi, bahwa Pemkot Bengkulu yang di jabat oleh walikota Helmi Hasan kembali melakukan pembebasan lahan tersebut guna kepentingan lahan makam merah putih Kota Bengkulu, dengan luas lahan pembebasan yakni kurang lebih 4 hektar. Padahal, lahan tersebut telah dibebaskan pada era walikota Chairul Amir dengan luas 8 hektar.

“Lahan ini kembali dilakukan pembebasan dan dijual seluas 4 hektar, diduga dilakukan oleh salah satu oknum pejabat di Anggota Dewan Kota Bengkulu dengan landasan adanya tanah milik keluarga yang merupakan tanah milik bapak dari oknum anggota dewan tersebut,” tutur Tarmizi.

Lebih lanjut, harga tanah dilokasi makam merah putih tersebut sebesar Rp 500 – Rp 600 ribu per meter persegi mengacu pada Perwal No 43 tahun 2019. Dan apabila dijual kembali seluas 4 hektar tanab tersebut memcapai Rp 20 miliar.

Adapun kondisi sekarang lahan tersebut dikuasai oleh pihak-pihak masyarakat penggarap liar yang beralasan keberadaan mereka dilahan yersebut atas izin dari Pemkot Bengkulu. (R)

Penulis : Rifki

Editor : Melinda

Leave A Reply

Your email address will not be published.